Memutuskan, menimbang dan melaksanakan.
Alhamdulillah.
Segala puji bagi Allah SWT. Yang telah memberikan nikmat yang begitu luar biasa selama ini. Dan juga Allah SWT lah yang telah menunjukan beberapa jalan untuk ku memantapkan hati untuk memulai untuk membangkitkan rasa yang terpendam setelah sekian bahkan belasan tahun lalu yang telah terkubur sedalam-dalamnya. Dengan beberapa emosi kemelut menyelimuti harapan dan impian. Dendam yang mendampingi realita tak baik untuk berkelanjutan. Meskipun berkata "aku bukanlah seorang yang pendendam" tetap saja hati merasakan emosi negatif yang sering kali tidak mampu untuk dikelola.
Dan inilah bagian pertama dalam cerita "Bunakai Nulis" pendampingan selama belajar memulai, mempraktikan bahkan menghasilkan tulisan di kemudian hari.
Aku.
Berbicara kata aku menurut KBBI, aku pron yang berbicara atau yang menulis (dalam ragam akrab); diri sendiri; saya.
Kalau menurutku "Definisi aku bukan hanya aku, akan tetapi…"
Deskripsi aku secara singkat. Namaku Tiara biasa di panggil bunakai (bundanya Kai). Seorang ibu rumah tangga, salah seorang content editor di platform instagram @familyhealth_edu, member komunitas Ibu Hebatku.id, Fun With Momi, Sala Sitaresmi, Growing Umma. Hobinya mengikuti kelas kelas online secara gratis (jika memungkinkan mengikuti kelas online berbayar sesuai dengan). Tertarik di bidang parenting, metode Montessori, pegiat literasi dini (Certified Read Aloud Trainer) yang paling utama adalah menjalankan peran sebagai seorang istri juga seorang ibu. Berusaha untuk menjadi seorang ibu yang tangguh untuk melahirkan anak-anak yang tangguh pula.
Definisi aku dari berbagai peran,
Aku sebagai seorang istri. Sejatinya seorang istri adalah sebuah pakaian untuk suaminya. Dengan kata lain sebaik-baiknya seorang suami ada yang membuatnya lebih baik yaitu seorang istri. Peran sebagai seorang istri itu begitu banyak bahkan tidak bisa di deskripsikan satu per satu. Dahulu sebelum mengenal sang suami tidak terpikirkan bahwa akan bertemu dengannya secepat mengambil keputusan untuk menerima ajakannya untuk membangun rumah tangga bersama di pertemuan hari pertama dengannya itulah awal dimana ku merasakan kebahagiaan yang selalu kurindukan. Kebahagiaan berlipat ganda dengan banyak emosi yang menyelimutiku saat malam di keramaian kota saat itu. Tak begitu mudah untuk menjalankan peran sebagai seorang istri begitu juga dengan tugas seorang istri. Pada intinya adalah melakukan peran, fungsi dan tugasnya sesuai dengan komitmen kita saat mengucap ijab kabul, sederhana menghargai setiap hal dari pihak suami-istri, sehangat kebersamaan saling menatap, berpelukan dan tersenyum. Itulah yang selalu ditanamkan dalam diri bahwa seorang istri adalah sejajar kedudukannya dengan suami. Rumah tangga akan terbangun jika kami bekerja sama dengan baik. Maka dari itu saling percaya dan menghormati itu lebih penting dari kerikil yang ada disekitar rumah tangga.
Aku sebagai seorang ibu. Seorang ibu adalah peran baru untukku, begitu anakku lahir didunia lahir pula seorang ibu yaitu aku. Tak terbayangkan bahwa aku mengalami kematian maksudnya aku yang dulu sebelum menjadi seorang istri dan ibu. Tanpa disadari aku mengalami proses berduka yang tak disadari. Hal ini disadari setelah anaku berusia 2,5 tahun. Bayangkan selama ini ku tidak menyangka apalagi menyadari bahwa aku sedang memiliki masalah yang begitu rumit dan besar. Beruntungnya aku bertemu dengan ibu-ibu lain yang mengalami hal yang sama denganku dan kami dipertemukan di komunitas Meditasi and Journaling yang dibuat oleh Lolyta Anindya salah satu temanku di media sosial instagram. Beliau menyerukan untuk menuangkan dan menumpahkan emosi-emosi yang kumiliki melalui Journaling dan melakukan meditasi untuk mengontrol diri juga membuat rileks.
Dalam peran ini tak begitu mudah alias sangat sulit. Sulit untuk mengendalikan diri dari ekspektasi-ekspektasi yang aku buat untuk anakku. Sangatlah berbahagia karena diberikan kesempatan untuk menjadi ibu untuknya dan melalui pertumbuhan juga perkembangannya, membersamainya disaat dia senang maupun sedih dengan berbagai macam tingkah lakunya. Hal sangat membuat ku selalu ingin belajar semua hal tentangnya.
Aku sebagai seorang anak pula. Aku adalah anak dari mereka orang tuaku. Orang tua kandung, sambung, angkat juga para orang dewasa lainnya yang ku anggap orang tua. Sebagian besar mereka sadar bahwa aku adalah anak mereka, akan tetapi mereka tidak sadar bahwa aku tidak merasakan jika aku adalah anak mereka. Bahkan yang tidak ada hubungan darah dengan ku menganggap, menghargai dan menghormati ku menjadi seorang anak. Menjadi seorang anak pun membuatku kesulitan, dimana aku tidak tahu harus melakukan apa yang sesuai dengan keinginan mereka, tetapi aku juga tidak dituntut harus melakukan apapun untuk mereka. Sangatlah membingungkan mungkin ini lah yang dinamakan " anak selalu menjadi korban" tapi tak perlu khawatir karena aku adalah seorang anak yang mau menjadi kuat dan mau menerima beberapa hal meskipun terkadang ku enggan menerima hal-hal tersebut.
Aku sebagai seorang kakak/ adik, ya di keluarga terdahulu aku adalah seorang kakak yang malah fungsinya terkadang menjadi seorang adik. Bukanlah kemauanku akan tetapi seperti sudah disetting sedemikian rupa bahwa aku seakan menjadi seorang adik. Tak perlu khawatir, karena aku seorang kakak yang menerima keadaan. Dan berusaha memahami situasi meskipun terkadang menyesakkan dada.
Begitulah deskripsi "AKU" menurut diriku sendiri. 😁
Coba moms and dads pasti punya pemahaman dan deskripsi nya masing-masing. Yukkk saling sharing bagaimana deskripsi Aku menurut kalian.
Happy Sharing 😁🤗
Bunakai Sharing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar