Kamis, 01 September 2021
Menjadi IRT itu pilihan (Tepat)
Hai, selamat pagi.
Lama tak menyapa, semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia yaaa.
Menjadi IRT (ibu rumah tangga) itu terkadang menjadi hal yang sangat rendah di mata masyarakat. Hari seorang IRT seperti buna sangat lah menjerit perih jika ada perkataan yang terkesan merendahkan seorang ibu yang hanya diam diri didalam rumah alias IRT.
Beberapa pertanyaan dan pernyataan yang sering buna dengar :
- Buna kok gak kerja?
- Buna lulusan S1 Keperawatan kok malah dirumah aja?
- Gak sayang ijazahnya?
- Kasian banget ibu bapak nya, nguliahin tinggi-tinggi eh ujung-ujung ya didapur juga.
- Mending ga usah kuliah aja kalau ujung-ujung ya didapur.
- Gak bosen dirumah aja?
- Enak banget jadi IRT, dikasih uang belanja, bisa leyeh-leyeh dirumah, anak tidur ikut tidur.
- Dll
Ini beberapa pertanyaan dan pernyataan yang sering banget buna dapat, mulai dari tetangga, teman, bahkan keluarga pun ada.
So, menjadi IRT yang sesungguhnya bukanlah berarti lahir dari jawaban atas pertanyaan seperti diatas tadi.
" Menjadi IRT itu adalah pilihan kita, sesungguhnya yang tau besarnya pengorbanan seorang wanita yang mendedikasikan dirinya untuk menjadi IRT adalah dirinya sendiri dan wanita lain yang merasakan, mengalami, dan menjalankan peran IRT"
-Bunakai-
Kalau ada yang masih memandang sebelah mata. Yuk, mending tutup dulu mata mu. Kemudian bayangkan jika kamu berada di posisi kami, Kira-kira apa yang akan kamu lakukan dan rasakan? Di saat pengorbanan mu melampaui batas kemampuan mu, dan pengorbananmu di pandang sebelah mata oleh orang lain. Etsss, jangan marah. Tidak mencoba untuk menyinggung ini hanyalah ungkapan hati Buna aja kok. Aku yakin pembaca tulisan ini bukanlah pribadi yang seperti itu.
Satu tahun kebelakang pergolakan batin pun berkemelut di enak dan hati buna, tatkala merindukan rutinitas sebelum menyamdang gelar sebagai IRT dengan pekerjaan di ranah public ( merawat pasien di rumah sakit, mendidik anak-anak SMK jurusan Keperawatan) timbullah keinginan-keinginan untuk kembali.
Perjalanan ingin kembali ya pun penuh dengan drama, sebelum pandemic melanda negara ini Buna mencari, memasukkan CV ke berbagai instansi mulai dari instansi negeri milik pemerintah hingga klinik terdekat milik salah satu dokter yang praktik didalamnya. Suami pun sebenarnya mendukung kembali ya Buna untuk berkarir kembali, tetapi seperti tidak diberikan lampu hijau oleh Kai (anak buna) dia sakit saat buna interview tahap akhir. Akhirnya buna urungkan niat untuk tidak bersikukuh mencari pekerjaan alih-alih ingin mengaktualisasikan diri.
Saat melihat teman, dia lulusan S2 menjadi IRT juga, tapi dia produktif mengembangkan kemampuan ya hanya dari rumah. Terbesitlah di benak Buna untuk mencari tahu dan ternyata dia salah satu member Ibu Profesional. Saat itu juga Buna cari informasi tentang Ibu Profesional, dan wah wah wah banyak sekali yang menjadi kebutuhan buna selama ini sepertinya ada didalamnya.
Sambil menunggu dibukanya pendaftaran member Ibu Profesional, buna gabung di salah satu Platform Kesehatan, untuk menebar ilmu Pengetahuan juga pengalaman yang buna miliki tanpa adanya bayar an. Kami pun berbagi informasi dengan masyarakat luas dengan cara mengadakan webinar, kulwap, dll.
Akhirnya pendaftaran dibuka, dan tanpa berpikir panjang buna daftar. Selama ± 1 bulan berada di Foundation 11 buna di Kumpulkan dengan wanita-wanita hebat para ibu yang memberikan dirinya untuk melangkah maju untuk mencapai aktualisasi diri dan kebahagiaan ya. Inilah Melati 19, kelompok tugas 19 di Jabar-4 foundation 11. 10 ibu di Kumpulkan menjadi satu, walau hanya kelompok mengerjakan tugas saja, tetapi satu sama lain saling memberikan support. Kenapa kelompok kami diberi nama Melati? Karena terinspirasi dari nama bunga pilihan untuk menggambarkan Indonesia yaitu Puspa Bangsa (Bunga Melati).
Inilah wajah anggota kelompok Melati 19.
Selama perjalanan dari pekan pertama ke pekan ke empat banyak sekali tantangan dan kegembiraan. Salah satu kegembiraan nya adalah setiap pekan setelah menyelesaikan sarung, kami mendapatkan stamp.
Setiap stamp memiliki makna masing-masing. Nanti buna akan share maksa stamp di tulisan berikutnya yaa. 😊
Teringat ucapan Bu Septi dan Pa Dodik saat Live Ibu Profesional Media Tumbuh ku.
" Setiap pilihan memiliki konsekuensi, dan setiap konsekuensi memiliki resiko. Jadi terimalah"
Dan satu lagi yang menjadi inspirasi untuk tetap bertumbuh dan berkembang.
" Tumbuhlah, kecuali kamu tidak mengizinkan dirimu untuk bertumbuh"
Inilah yang menjadi penyemangat agar tetap bertumbuh atas kemauan diri sendiri bukan orang lain.
Karena itulah, mengapa buna ingin tetap mengembangkan potensi diri dan memilih Ibu Profesional sebagai media tumbuh.
Buna harap dengan bertumbuh dan berkembang di Ibu Profesional Mampu meningkatkan kualitas diri sebagai ibu bekerja di ranah domestik bukan lagi IRT yang di pandang sebelah mata oleh masyarakat luas.
Besar harapan buna mendapatkan berbagai macam support dan Mampu mengembangkan diri agar bisa Berkarya juga berdampak untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan juga masyarakat luas. Seperti value yang di emban oleh Ibu Profesional 5B.
Yang menjadi hal penasaran buna terhadap Ibu Profesional adalah mencari tahu apa itu Mantra Ibu Profesional.
Sekian sharing buna mengenai semai Harapan
Semoga bermanfaat dan menginspirasi para ibu bahwa menjadi IRT tidak lah serendah orang pikir.
#BahagiaBertumbuhBersama
#PenyemaiBahagia
#Foundation11
#IbuProfesional
#SemestaBerkaryaUntukIndonesia
Sampai berjumpa di tulisan buna berikutnya.
Salam Sehat dan Bahagia
Bunakai